Tuesday, 16 August 2016

Cerita Pendek (Cerpen) Hidup Harus Bersyukur


Angin sepoi-sepoi lewat telingaku membuat aku menikmati indahnya suasana pagi itu. Seperti biasa aku makan sarapan pagi hanya dengan satu sendok nasi dan satu buah tempe. Tempenya aku goreng kadang-kadang sampai warnanya gelap karena terlalu lama digoreng. Setelah makan sesuap nasi dan satu buah gorengan tempe aku terus minum segelas air putih untuk membasahi tenggorokan aku. Aku sudah kenyang walaupun hanya makan sesuap nasi dan minum segelas air putih. Aku biasa melakukan seperti itu untuk mengawali kegiatan aku untuk beraktivitas sebagai tenaga pengajar disebuah sekolah. Aku berangkat ketempat kerja menggunakan sepeda ontel jengki warna hijau yang sudah usang dimakan usia. Walaupun aku naik sepeda jengki, tapi aku tetap menikmati indahnya perjalanan dengan sepeda jengki aku itu. Sepeda jengki aku kadang-kadang berbunyi karena mungkin sekrupnya ada yang lepas. Aku pun mengecek kenapa sepeda aku berbunyi, ternyata sepeda aku berbunyi karena sekrup diselebor belakang sepeda aku ada yang lepas. Aku pun menali selebor itu dengan tali rafiah suapaya tidak berbunyi.



Perjalanan dari rumah ke sekolah tidak lama karena jarak rumah aku sampai sekolah aku masih satu desa. Aku mengajar di sekolah dasar (SD) didekat tempat aku. Aku mengajar kelas 4 SD. Aku setiap hari di sekolah terus dari pagi sampai siang kecuali hari minggu. Aku mengajar anak SD sangat senang. Karena anak-anak di sekolah dapat menghibur aku ketika aku merasa gundah. Aku mengajar di SD sudah lama tetapi gaji aku Cuma Rp.200.000 per bulan. Kalau orang memandang gaji seorang guru itu banyak, tetapi kenyataanya gajinya cuma 200 ribu rupiah per bulan. Untuk membeli bensin saja tidak cukup, apalagi untuk memenuhi kebutuhan yang lain. Oleh karena itu sepeda montor aku tidak aku pakai dan rencananya akan aku jual karena aku tidak punya uang untuk membeli bensin. Aku ini guru tidak tetap (GTT) di SD, jadi gajinya 200 ribu rupiah perbulan. Sama gaji seorang pembantu saja gaji aku lebih sedikit. Gaji seorang pembantu di desa itu saja gajinya Rp 600.000 per bulan, kalau di kota besar gaji pembantu sampe 3 juta atau 4 juta perbulan. Kalau aku melihat itu kadang aku mengangis sendiri. Aku lulusan sarjana pendidikan dari universitas negeri favorit tetapi setelah kerja gajinya cuma 200 ribu rupiah per bulan. 


Disisi lain seorang pembantu yang mungkin hanya tamatan sekolah dasar (SD) setelah bekerja jadi pembantu gajinya sampe 600 ribu rupiah per bulan bahkan kalau jadi pembantu di kota gajinya bisa mencapai 4 juta rupiah per bulan. Kadang aku bertanya pada hati nurani sendiri, “apakah itu adil?”, maka jawabanya masih belum jelas. Yang nasibnya seperti aku di kabupaten tempat aku tinggal ini kurang lebih 3000 orang. Kalau di seluruh Indonesia mungkin jumlahnya bisa puluhan juta. Mungkin setiap tahun bisa bertambah karena luluan dari universitas kan setiap tahun ada. Orang yang bekerja mencerdaskan anak bangsa cuma digaji 200 ribu rupiah. Aku tidak tahu sikap pemerintah yang mengabaikan nasib para guru gtt. Nasib para guru gtt itu seperti pengemis. Pengemis saja penghasilannya satu hari bisa mencapai 200 ribu, kalau satu bulan kira-kira penghasilan seorang pengemis bisa mencapai 6 juta rupiah per bulan. Pengemis yang tidak membutuhkan ijazah untuk melakukan pekerjaan itu tetapi penghasilan seorang pengemis sangat besar. Walaupun aku makannya cuma sama tempe tapi aku tetap besyukur. Walaupun aku gajinya sedikit tapi aku tetap bersyukur juga. Semoga pemerintah memerhatikan nasib para guru tidak tetap di Indonesia. Karena para guru mencerdaskan anak-anak bangsa.

No comments:

Post a Comment