Wednesday, 30 August 2017

CERITA PENDEK (CERPEN) “TEMAN SEJATI”



Pada suatu hari pertama kali masuk sekolah menengah pertama / SMP ada seorang anak yang pendiam dan belum mempunyai teman dikelas tersebut. Hari berlalu semakin cepat. Agus atau sebutan namaku mencoba mendekati orang itu yang sangat pendiam dikelas. Aku dan dia berteman makin lama makin akrab, dan yang tak terduga dia bertempat tinggal seberang desa dengan desaku. Lama-lama kita saling dekat saja seperti saudara dekat. Dia bernama Humroni, sering dipanggil Roni. Semenjak dia kenal denganku dia sudah tidak pendiam seperti dulu lagi. Dia sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Semenjak aku dekat dengan Roni, aku mulai mengetahui sifat dan karakter dia. Ternyata dia anak yang pintar dan cerdas. Setiap kali ada tugas atau pekerjaan rumah, aku selalu diajari oleh Roni. Dari pelajaran yang termudah sampai tersulit bagiku, dia bisa mengerjakanya. Beda denganku yang belum mencoba sudah menyerah saja.
 
CERITA PENDEK (CERPEN) “TEMAN SEJATI”
CERITA PENDEK (CERPEN) “TEMAN SEJATI”
Satu tahun aku duduk dikelas satu SMP sekelas dengan Roni, sampai-sampai duduk pun bersamaan. Jangankan duduk, ke kantin ataupun kemanapun aku pergi atau aku butuh pasti Roni selalu siap menemani aku kemanapun. Dan sebaliknya akupun begitu, jika Roni membutuhkan aku, aku siap membantunya walaupun sekecil apapun perbuatanku untuknya. Berangkat sekolah pun kadang selalu kerumahku dulu untuk menjemputku untuk berangkat sekolah bersamaan. Biasanya dia kerumahku dan sebaliknya akupun juga kerumah Roni untuk mengajak bermain ataupun berangkat sekolah dan ekstrakurikuler. Pokoknya kalau Roni butuh aku maka aku siap membantu, dan sebaliknya jika aku butuh Roni maka Roni pun siap juga untuk membantuku.

Pada suatu saat setelah UKK sekolahku selalu mengadakan turnamen antar kelas, atau sering disebut classmeeting, lomba wajib yaitu lomba futsal antar kelas. Dan pada saat itu, teman-temanku yang jago atau ahli bermain futsal tidak ada yang berangkat sekolah. Mau bagaimana lagi kalau kelasku tidak mengikuti pertandingan maka akan dikenakan sanksi dan di diskualifikasi dari pertandingan. Dan akhirnya kita semua sepakat mau tidak mau mengikuti pertandingan futsal itu, dan yang ikut pertandingan melawan tetangga kelas diwakili oleh aku. Roni dan teman-teman yang saya kira rada rada tidak suka sepak bola, dan mau bagaimana harus ikut dan yang terpenting kalah menang hal biasa dalam sebuah pertandingan sepak bola. 


Roni siap menjadi penjaga gawang, dan aku serta teman-temanku maju untuk mencetak scor ke gawang lawan. Pada saat pertandingan dimulai, Roni berkata “Nanti dulu mas wasit, aku ingin kencing dulu” dan orang-orang yang menonton semua tertawa karna merasa lucu. Memang Roni agak sedikit lucu tidak seperti teman teman yang lain. Pada saat Roni telah kembali, pertandingan dimulai, semua teman-temanku hanya diam dan tidak bergerak cepat seperti halnya orang bermain sepak bola, karena mereka takut terkena bola, mungkin “Ujarku seperti itu”. Aku dan teman-teman hanya mengandalkan pertahanan saja. Kami jarang menyerang ke gawang lawan. Padahal sering bola datang ke arah gawang yang dijaga oleh Roni, tetapi tidak ada satu gol pun yang masuk ke gawang Roni. Semua orang tercengang melihat betapa hebatnya Roni sang penjaga gawang hebat.

Setelah waktu usai, diadakanlah adu pinalti. Penendang pertama adalah temanku yang tidak suka bola, dan dia berbincang denganku “aku gak bisa nendang bola, gimana ini?” tanya dia kepadaku sambil gugup karena takut ditertawai oleh penonton. Jawabku singkat “Udah, kamu yakin aja, yakin aja kamu bisa memasukan bola itu ke gawang, pakailah kaki bagian ini agar tendanganmu lurus” sambil menunjuk kaki bagian dalamku. Biasanya kalau orang yang tidak suka sepak bola, pasti tendanganya gak karuan, dan sering-seringnya memakai kaki bagian depan ataupun ibu jari kaki, padahal kan sakit, tapi sering menutupi kemaluanya itu, agar tidak diejek teman. Singkat kata singkat cerita, kelasku memenangi pertandingan demi pertandingan dengan hanya mengandalkan adu pinalti saja. Pada saat laga final, teman-temanku yang ahli bermain futsal yang maju untuk melawan kaka kelas. Laga final pertandingan kelasku dengan kakak kelasku yang kelasnya terkenal paling ganas. Dan akhirnya kelasku dikalahkan oleh kakak kelas yang ganas-ganas. Kami pun terima dengan lapang dada menjadi juara kedua pada saat itu.


Beralih dari futsal, Aku masuk dikelas 8A, dan Roni 8E hal ini tidak membuatku untuk cari sahabat lag. Aku dapat belajar bahwa sahabat disana tidak selalu ada disampingku. Pada saat upacara bendera, pembina upacara mengatakan bahwa besok akan diadakan seleksi dewan kerja pramuka. Aku dan Roni memberanikan diri untuk mencalonkan sebagai anggota dewan kerja pramuka SMP. Pada saat seleksi banyak anak yang tidak ikut seleksi tahap selanjutnya. Hal ini tidak membuat aku dan Roni down. Singkat kata singkat cerita tahap seleksi berakhir dan pada saat kegiatan pramuka, disebut nama satu persatu oleh Bapak Eko atau pembina pramuka. Nama Roni disebut paling awal, dan namaku belum disebut “aduh, masa namaku ga ada sih?” ujarku dalam hati, dan pada saat pemanggilan nama terakhir, aku disebut juga “horee yess!!” sambil melompat berteriak yes!!, semua anak melihatku dan menertawaiku, rasa malu bercampur bangga dalam hatiku. Singkat saja, aku berkenalan dengan teman-teman dewan kerja seangkatan yang berhasil lolos seleksi. Kita bagaikan keluarga yang ada disekolah, karena semua pekerjaan kita selalu dilakukan bersama-sama. 

Pada saat kelas 9, kita juga tidak satu kelas, tidak seperti kelas satu dulu. Aku dan Roni sering belajar bersama. Permasalahan tentang soal-soal latihan ujian nasional untuk dihadapi bersama. Saling bertukar pikiran tentang pelajaran, misal aku suka matematika maka aku mengajari Roni hal yang Roni tidak bisa dilakukan,dan Roni suka IPA maka dia juga mengajariku tentang soal-soal IPA ujin nasional. Pada saat pengumuman kelulusan aku dan Roni mendapatkan nilai yang hampir sama. Kira-kira cuma selisih 0,50. Dia ingin melanjutkan kesekolah di SMA, sedangkan aku ke SMK. Perbedaan tidak membuat persahabatanku luntur. Dan sampai sekarang aku dan Roni masih sering bertemu walaupun sudah beda sekola. Dia sering kerumahku untuk sekedar main ataupun tanya-tanya tentang kegiatan esok mau ngapain. Sebaliknya aku sering kerumah Roni cuma sekedar mampir, yang terpenting persahabatanku dengan Roni tidak akan luntur atau putus Cuma gara gara hal sepele yang dibesar besarkan. 

No comments:

Post a Comment