Wednesday, 6 September 2017

Cerita Pendek (Cerpen) “Tempat Jalkan Punya Cerita”


Dari kejauhan kulihat awan gelap mengerikan menutupi langit desa Blater. Menghalangi pancaran sinar matahari pagi yang terkadang tak terkalahkan tanpa kusadari aku melangkah keluar rumah. Di sekelilingku tampak pepohonan yang sekarang telah mencengkram tanah, tempat yang dulu tandus kini telah banyak di tumbuhi tanaman-tanaman indah yang memberikan oksigen pada umat manusia. Ini sangatlah berbeda di zaman lampau, kini sudah dipenuhi pohon-pohon yang rindang.
 
Cerita Pendek (Cerpen) “Tempat Jalkan Punya Cerita”
Cerita Pendek (Cerpen) “Tempat Jalkan Punya Cerita”
Dipohon rindang itu pula banyak burung-burung berkicau untuk menarik pasangan. Apakah keindahan alam yang dianugerahkan tuhan ini harus dikorbankan demi pesatnya pembangunan? Apakah tak ada hal lain yang bisa dikorbankan selain keindahan alam? Apakah ini yang telah digariskan oleh Tuhan. Zaman telah merubah keadaan, keadaan yang dulu hijau segar kini, tapi sekarang berubah menjadi kering kerontang. Tempat yang penuh kenangan kini tinggal cerita. Tempat untuk berkumpul anak -anak disore menjelang magrib.


Untung aku masih sempat merasakan kesenangan di tepat itu tanaman-tanaman yang kini sangat mengubah wajah tempat itu. Aku lahir didesa blater yang dahulunya dingin dimalam hari dan panas di siang hari yaitu desa blater.desa kecil Penuh kenangan. Disana aku dilahirkan, disana aku hidup dan mengejar impian. Disanalah aku mendapat teman-teman. Aku bersekolah di sebuah sekolah dasar didesa blater.

Sekolahnya terletak di desa blater, sekolahku  lingkungannya asri dan hijau mungkin karena mengejar titel “Adiwiyata” mungkin karena itu madrasahku mengorbankan kepentingan siswa. Disebelah selatan sekolahku berjarak kurang lebih seratus meter ada bali desa. Kembali ketopik kita. Tanah yang hanya diperuntukkan oleh pemiliknya untuk taman dan pohon-pohon rindang yang dulunya untuk bermain, tak khayal banyak anak-anak yang dulunya bermain di tempat itu sangat membenci sang pemilik tempat itu. Pernah seorang dari teman ku bertanya pada pemilik tempat itu yang namanya Kadir.

Teman ku bertanya “Pak, kok tanah nya ditanami pepohonan, kami kan sudah lama bermain di tempat itu, apa memang hanya bisa bermain di tempat lain di tanah yang sebenarnya tak layak untuk dijadikan tempat bermain, plesteran lapangannya itu saja banyak yang berlubang”. Pak Waka Sarana Prasarana menjawab “Sabar nak, tempat ini digunakan untuk menyejukan tempat tingal kita" jawab pak kadir lalu temanku menjawab “Ya pak”. Lalu aku bertanya kepada pak kadir "Kapan kami bisa bermain kembali di jalakan" pak kadir menjawab "aku tidak tahu, sebaiknya kalian mencari tempat lain untuk bermain". Aku menjawab "Baik kah pak kami akan mencari tempat lain untuk bermain" kamipun meninggalkan tempat itu.


Disaat kami berjalan tak jauh dari jalakan kira-kura dua ratus meter dari tempat itu kami melihat bangunan yang baru dibangun. Kami melihat tanah lapang yang telah di cor menggunakan beton, lalu kami minta izin untuk bermain di tempat itu setelah meminta izin kamipun bermain ditempat itu.

Walau kami sudah menemukan tempat bermain yang baru kami tetap mengingat jalakan tempat dimana aku betemu banyak teman-teman baru. Walau beda, desa kami tetap diaga bersama setelah banyak kenangan terukir ditempat itu. Teman-temanku yang bekerja keluar kota. Sekarang tinggal beberapa teman ku yang masih sekolah untuk meraih mimpi. Karena dulu sering bermain bersama, temanku mengajak membuat baju yang bertuliskan "Jalakan punya cerita".

Mengingat kejadian masa lalu kadang bisa membuatku tertawa sendiri. Kejadian yang terjadi pada saat sungai di timur rumahku kering. Kami bersepuluh kehausan karena habis main bola, karna kehausan dan sungai pada waktu saat itu sedang kering salah satu kawan ku mengajak untuk memetik kelapa di samping sungai ia berkata “aku sangat haus, bagaimana kalau kita memetik kelapa dari pohin kelapa disana”. Secara bersamaan temanku berlari kearah pohon kelapa yang di maksud.

Dengan tak sabar aku langsung memanjat pohon kelapa, lalau memetik tujuh buah kelapa. Setelah memetik kelapa kami terus meminum air kelapa tersebut. Ketika hampir habis, dari kejauhan terlihat ada orang berlari sambil mengacung-ngacungkan sebuah sabit dan berteriak “hai itu pohon kelapaku jangan dipetiki” kami semua pun berlari kocar-kacir, karena takut ada yang kesawah, ada yang lari ke dalam sungai, sedangkan aku lari pulang kerumah.


Haripun menjelang malam, ketika malam hari kami bersepuluh berkumpul di mushola dan saling bercerita apa yang terjadi pada siang tadi ketika ketahuan memetik kelapa orang. Ada yang bercerita dikejar sampai berlari kekuburan Kamipun berbincang sampai malam, setelah jam dinding menunjukan jam sekitar sebelas malam, kami pun pulang kerumah masing-masing. Sebelum bubar, teman ku berbicara “Bagaiman kalau kita besok kita maaf kepada orang yang tadi siang mengejar-ngejar kita”. Salah satu teman ku menjawab “gak usah lah nanti orang itu jadi tahu siapa yang sudah memetik kelapa di pohon kelapa miliknya” secara bersamaan tiga orang temanku berkata “kita sebaiknya minta maaf saja pada orang itu”. Akhirnya kami semua meminta maaf kepada orang yang mempunyai pohon kelapa itu.

No comments:

Post a Comment