Monday, 4 September 2017

CERPEN “LIBURAN KE PANTAI MENGANTI YANG INDAH”



Saat itu libur Hari Raya Idul Fitri. Di pagi hari yang dingin, terdengar suara adzan shubuh, perlahan aku mulai membuka mata dan terbangun dari tidurku. Dengan pikiranku yang masih setengah sadar, aku berjalan ke kamar mandi untuk buang air lalu mengambil air wudhu. Aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang muslim dan menunaikan ibadah sholat shubuh.
 
CERPEN “LIBURAN KE PANTAI MENGANTI YANG INDAH”
CERPEN “LIBURAN KE PANTAI MENGANTI YANG INDAH”
Pada saat aku selesai menjalankan ibadah sholat shubuh, aku kembali terlelap tidur karena rasa ngantuk yang sulit ditahan. Matahari yang mulai naik membuatku terbangun dari tidurku, kemudian aku melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 9 pagi. Aku pergi menuju kamar mandi untuk mencuci wajahku lalu duduk di depan televisi sambil menyaksikan film yang di tayangkan. Tak lama setelah aku menonton televisi, perutku mulai protes karena belum terisi makanan, aku menuju dapur mengambil sarapan lalu menonton televisi lagi.

Sehabis aku selesai makan, aku mematikan televisi karena bosan dan kemudian aku memainkan ponselku. Aku menonton film yang ada di ponselku sampai kemudian aku mendapatkan pesan dari temanku.

Ketika aku membuka pesan di ponselku, ternyata pesan itu dari teman akrabku, Fauzan. Ia menanyakan apakah aku berada di rumah atau sedang keluar. Aku membalas pesannya lalu melanjutkan menonton film di ponselku. Tak lama setelah aku membalas pesan, Fauzan sudah berada di depan rumahku membawa sepeda motornya. Aku mempersilahkan masuk dan menyuguhkan beberapa hidangan sisa dari idul fitri serta memberinya minuman dingin.

Kami berbincang cukup lama hingga akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Pantai Menganti.

Fauzan : “Hari ini kita akan kemana?” Tanya Fauzan padaku.
Aku     : “Entah, kenapa kita tidak ke pantai?” Jawabku.
Fauzan : “Bukankah liburan kepantai sudah biasa?”
Aku     : “Kita cari yang jauh, biar perjalanannya asik?”
Fauzan : “Misalnya kemana?”
Aku     : “Bagaimana kalau ke Pantai Watu Bale?”
Fauzan : “Enggaklah, ke Menganti saja yuk?! Disana kan pasirnya putih!” seru Fauzan.
Aku     : “Oke, tapi pakai motormu yah?!”
Fauzan : “Siap! Cepetan kamu berkemas!”

Aku mandi dan bersiap-siap, setelah itu kami langsung berangkat. Di perjalanan, tepatnya di jalan Deandles, kami memacu sepeda motor dengan cukup kencang. Perjalanan jauh itu kami nikmati dengan nuansa angin pedesaan yang menyejukkan. Saat hampir tiba di Pantai Suwuk, kami berhenti sejenak untuk istirahat dan mengisi bahan bakar. Lalu kami melanjutkan perjalanan. Di perjalanan kami mengobrol tentang beberapa hal untuk mengisi waktu agar tidak bosan.


Beberapa kilometer kemudian, jalan yang kami lewati berubah menjadi jalan pegunungan. Jalanan yang naik turun itu kami lewati dengan hati-hati. Di pinggir jalan yang menanjak dan menurun, banyak orang yang membantu perjalanan kami dengan menertibkan lalu lintas. Mereka melakukan hal itu seraya mengharapkan beberapa rupiah uang receh dari pengguna jalan. Para pengguna jalan juga banyak yang bersimpati dan memberikan beberapa keping uang mereka sebagai balasan terima kasih.

Perjalanan kami sudah cukup jauh, kami melewati berbagai tempat wisata-wisata di kebumen, diantaranya ada Pantai Suwuk, Bukit Hud, Pantai Watu Bale, Pantai Patemon, dan masih banyak lagi. Kebumen memanglah kota yang indah.

Setelah beberapa lama, kami melewati tanjakan yang cukup terjal, kami melewatinya dengan hati-hati dan akhirnya kami bisa mencapai puncak tanjakan itu. Kami tertawa gembira karena telah berhasil melewatai tanjakan yang terjal itu.

Setelah perjalanan jauh yang kami lewati, akhirnya kami berhasil mencapai pintu masuk ke wisata Pantai Menganti. Harga tiket masuknya cukup murah, hanya Rp. 12.500, sudah termasuk parkir.

Perjalanan kami belum selesai karena jarak antara pintu masuk dengan tempat wisata masih jauh. Di tengah perjalanan menuju ke tempat parkir, jalanannya masih naik turun. Dari jalanan yang lebih tinggi dari pantai, kami berhenti sejenak dan melihat pemandangan pantai menganti yang sangat indah. Pasir putih yang terhampar di pantai, dan laut yang luas terlihat bagaikan menyatu dengan langit yang biru.

Sesampainya di tempat parkir, kami memarkir sepeda motor, lalu menyusuri pantai menganti yang indah. Kami memanjat batu karang dan berfoto ria. Kami menikmati indahnya pemandangan dengan duduk di atas batu karang dan bercengkerama. Aku berkata pada Fauzan:

Aku     : “ Memang tidak sia-sia yah kita datang kesini”
Fauzan : “ Kamu memang benar, pemandangannya memuaskan, lelah di perjalanan tadi sudah terbayarkan”
Aku     : “ Lain kali kita ajak teman-teman yang lain yah!”, kataku sambil berdiri ke pinggir karang.

Hari mulai siang, kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu di warung pinggir pantai, aku memesan pecel dan Fauzan memesan Mie Goreng Telor. Kami menikmati makan dengan nuansa pantai yang indah dan menikmati sejuknya angin pantai.

Setelah puas, aku dan Fauzan memutuskan untuk pulang. Kami pulang melewati Pantai Sawangan, terlihat dari kejauhan bukit tinggi dan para pengunjungnya. Di tengah perjalanan pulang kami menunaikan Sholat Dzuhur terlebih dulu di sebuah masjid pinggir jalan. Perjalanan pulang yang cukup menyita tenaga hingga akhirnya kami sampai di rumahku, Fauzan langsung pamit pulang karena hari mulai sore. Begitulah Liburanku ke Pantai Menganti.



No comments:

Post a Comment