Friday, 8 September 2017

Cerpen “Pengalaman Adalah Guru Terbaik”



Waktu liburan sekolah lebih tepatnya pada hari Selasa, Ayla, Resta, dan Sarti car free day di alun-alun. Mereka car free day di alun-alun dengan tujuan menyegarkan pikiran sekaligus menghilangkan beban-beban pikiran yang masih  menempel di otaknya. Selain itu, mereka juga ingin sarapan bubur ayam di suasana yang ramai dan dalam keadaan perut yang lapar. Semua itu mereka lakukan supaya dapat merasakan nikmatnya liburan dengan kesederhanaan.
 
Cerpen “Pengalaman Adalah Guru Terbaik”
Cerpen “Pengalaman Adalah Guru Terbaik”
Saat car free day, Ayla, Resta, dan Sarti saling berbincang-bincang untuk mengurangi rasa lelahnya. Selain itu, supaya suasananya tidak kaku dan lebih akrab.

“Sar, kamu gak malu apa ?” tanya Resta.
“Buat apa malu, emang gue ini badut bayaran apa?” jawab Sarti sambil memandang ke Resta.
“Jangan sewot dulu dong, maksud aku itu kamu pakai baju dan perhiasan terlalu mencolok”, Jelas Resta.
“Iya Sar, kamu itu mirip kaya emak-emak mau kondangan tau”, kata Ayla sambil tersenyum.
“Iah kalian norak deh, masa aku udah dandan kayak gini dibilang kaya emak-emak”, jawab Sarti dengan ketus.
 “Sarti tapi kamu juga harus hati-hati, siapa tahu nanti ada yang ........”, pikir Ayla.
“Suka sama aku yah ?” sahut Sarti.
“Bukan Sar, tapi.....”, kata Ayla ragu-ragu.    
“Sudahlah, kalian gak capek apa ? Cacingku udah pada demo nih”, rengek Resta.
“Ya sudah, kita sarapan dulu aja! Perutku juga sudah keroncongan dari tadi”, pinta Ayla.
“Bagaimana kalau aku traktir”, tawaran Sarti.
“Setuju!” jawab Ayla dan Resta kompak.

Setelah sarapan bubur, mereka bersantai dan istirahat di bawah pohon yang rindang. Setelah itu, mereka melihat-lihat kerajinan yang dijual oleh seorang pemuda. Mereka pun tertarik terhadap gantungan kunci yang berbentuk kapal. Akhirnya mereka membeli gantungan kunci tersebut.

Tak terasa hari pun semakin panas membuat mereka semakin lelah. Setelah membeli gantungan kunci, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Saat perjalanan pulang, ada seorang pengemis yang dekil dan kurus.

“Non, berikan sedikit sedekahnya buat saya Non”, pinta pengemis.
“Badan Bapak kan masih sehat, kenapa tidak mencari pekerjaan aja Pak ?” tanya Ayla.
“Saya sudah mencari pekerjaan ke sana ke mari tapi saya gak dapat juga”, jawab pengemis dengan nada memelas.

Melihat kelakuan sang pengemis, Sarti merasa iba dan kasihan kepada pengemis tersebut. Namun, Resta dan Ayla agak curiga terhadap pengemis itu.

“Sar, ayo kita tinggalin pengemis itu !” bisik Ayla sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Sarti.
“Kamu jangan seperti itu Ayla, pengemis ini sepertinya gak kenapa-napa kok !” jawab Sarti dengan lembut.
“Pak ini ada sedikit uang. Semoga berkah ya”, kata Sarti sambil membelikan uangnya.


Tak disangka-sangka, pengemis itu langsung mengambil uang tersebut sekaligus tas kecil kepunyaan Sarti. Tas tersebut berisi barang-barang berharga seperti dompet, HP Android milik Sarti, Ayla, dan Resta, serta I-Pad milik Sarti. Tanpa pikir panjang Ayla dan Resta langsung mengejar pengemis itu. Mereka melewati gang-gang yang kecil dan sempit serta sepi. Saat mereka sampai di jalan buntu, Ayla dan Resta langsung ngebugin pengemis itu. Saat itu pula, terjadi pertarungan sengit antara pengemis dan Ayla serta Resta. Setelah beberapa menit bertarung, pengemis itu pun dapat dikalahkan oleh Ayla dan Resta.

Ayla dan Resta sangat senang dapat mengalah kan pengemis itu. Tas Sarti pun dapat kembali ke tangan Ayla dan Resta.

“Res, mau kita apain pengemis itu?”
“Kita ikat aja, terus kita hubungi polisi. Beres kan ?” jawab Resta dengan mudah.
“Tapi masalahnya, di sini gak ada tali. Mau kita ikat pake apa pengemis itu”, pikir Ayla.
“Bener juga kamu!”
Tiba-tiba datanglah sejumlah preman.
“Hey, mau ngapain kalian ke sini hah ?” tantang Resta.
“Kembalikan tas itu !” kata salah satu preman dengan nada keras.
“Tidak bisa, kalian punya hak apa dengan tas ini?” tegas Ayla.
 “Gak usah banyak omong ! Cepat serahkan tas itu ! Kalau gak saya habisin kamu !” ancam salah satu preman.
“Siapa takut ?” tantang Ayla dan Resta dengan percaya dirinya.

Mereka pun langsung berkelahi. Ayla dan Resta mulai kehabisan tenaga karena mereka telah berkelahi dengan pengemis itu. Dalam sekejap Ayla dan Resta dapat dikalahkan oleh preman itu. Ayla dan Resta pun langsung diikat oleh preman itu dan dibawanya ke rumah kosong.

“Lepaskan kami !” perintah Resta kepada preman.
“Tidak bisa ! Memangnya kalian siapa senaknya minta dilepaskan.”      

Ayla dan Resta disekap di dalam rumah selama beberapa menit.  Mereka juga baru sadar ternyata Sarti dari tadi tidak bersamanya. Mereka merasa bersalah kepada Sarti karena telah meninggalkannya. Mereka takut kalau Sarti ketemu sama preman-preman itu karena Sarti tidak bisa bela diri. Apalagi Sarti itu anak yang manja. Mereka juga baru sadar ternyata pengemis itu adalah seorang preman yang menyamar sebagai pengemis. 

“Cepat beritahu kami di mana rumah Sarti !” kata seorang preman.
“Tidak akan saya beritahu !” jawab Resta tegas.
“Berani yah kamu” kata seorang preman dengan emosi.

Keadadaan pada saat itu pun memanas. Preman-preman itu sudah tak terkendali emosinya. Sesekali mereka bermain  kasar. Ketika salah seorang preman  mau memukul Resta dan Ayla, tiba-tiba datanglah Sarti. Sarti datang ke rumah kosong itu bersama polisi. Preman-preman itu pun langsung ditangkap oleh polisi. Resta dan Ayla sangat berterima kasih kepada polisi dan Sarti karena telah menyelamatkannya.

Pak polisi memberikan nasihat kepada Ayla dan Resta terutama kepada Sarti untuk senantiasa berhati-hati dan jangan bertindak ceroboh seperti tadi. Kita juga harus berpenampilan yang sederhana untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Akhirnya mereka sadar dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Peristiwa tersebut tidak akan pernah mereka lupakan sampai kapanpun. Mereka pun berpelukan dan berbahagia
    



No comments:

Post a Comment